SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA MAS MBAJENG

Monday, 5 December 2016

Ke mana AYAHKU..



Rintik hujan membasahi jiwa.
Langit resah batin gelisah.
Bersua bayang di bawah semboja.
Menjumpai ayah di tanah nan Merah..

Puncak kehidupan ada batas.
Sebentar usia, kau nikmati dunia.
Kini, jiwamu terbang menuju alam lepas.
Menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ku pandang nama di batu nisan itu.
Lama ku terdiam, sesak di dada ku tahan.
Teringat kembali kasih dan sayangmu dahulu.
Betapa besar kau hadirkan sgala pengorbanan.

Terduduk menunduk diantara daun dan rerumputan.
Mengalirlah Air mata yg menghancurkan gundahku
Ku panggil nama, ku sematkan do'a dan pujian.
Kemana kau sekarang wahai AYAHku  ??

Sunday, 4 December 2016

AYAH



Kubuka pintu masaku dulu.
Menerobos masuk hendak bertemu.
Mengecap rasa mengharukn rindu.
Ke belakang zaman badan terpaku.

Ku hadirkan jiwa penuh harap.
Memelukmu walau hanya sekejap.
Kubisikan do'a suci dalam senyap.
Agar terang mengubur gelap.

Memandang, tak kuasa menahan air mataku.
Melihat, bergetar jantung dan bibirku.
Kurangkum kisahmu di gudang qalbuku.
Dan ceritamu akan membunuh malasku.

Perlahan kutinggalkn istana bawah sadarku.
Kini hrus kembali menutup pintu.
Sedihku bernyanyi, saat melepas waktu.
Dan kusebut namamu kuukir selalu..
Kaulah AYAHku dulu sampai akhir hayatku..

Saturday, 3 December 2016

SENDIRI



Merangkai kata di balik hiruk pikuk.
Di sana angin kecil meratap sepi.
Bersarung dengan diam merasuk.
Sendiri melenggangkan intuisi,

Tak ada derap langkah ke sekian kali.
Tak ada tawa yang melayang di atas bumi.
Dan para raja terlena dalam lipatan permaisuri.
Sendiri menembus batas ilusi.

Logika kandas ditengah jalan.
Hasrat hati menjadi pangeran kini.
Yang bertahta tanpa kawalan.
Sendiri kembali menemani.....

Friday, 2 December 2016

KERING DI TENGAH MUSIM



Kerontang menahan hujan.
Banyak air tapi tak mengalir.
Basah dimuka, hilang ditelan.
Bersemi hanya dalam cangkir.

Rumput rumput menari spnjang hari.
Burung burung bernyanyi setiap pagi
Seakan riang dg kehadiran musim ini.
Bahkan siulan petani acap x menghiasi.

Alam memang tak pernah mengingkari.
Hujan tak pernah datang sekali.
Tapi kenapa KERING hadir berkali kali ?
Bahkan mengikat Hujan dengan tali.

Thursday, 1 December 2016

KAWANKU...

Puisi ini kawanku.
Tak bernyawa tapi bernyali.
Ia hadir tanpa malu malu.
Acuh pada semua kondisi.

Puisi ini bukan lawanku.
Tak berotot tapi melembutkan hati.
Ia datang bagai penari yg lugu.
Yang menari nari sebanyak hari.

Puisi ini hnya hambaku.
Yang mengabdi tanpa abadi.
Segala gundah bertalu talu.
Sirna sudah hilang tak kembali.

Puisi ini memang kawanku,
Bersama waktu, ia menemani.
Menapak jalan kasar berbatu.
Indah terasa sukma berseri.

Puisi ini memang benar kawanku.
Yang tumbuh subur bersama melati.
Harum semerbak menyentuh qolbu.
Sejenak kata meramaikan sepi...

Benarkah puisi ini kawanku ?
Yang membawaku terbang ke sluruh Negeri.
Hatipun menjawab tanpa ragu.
Jika engkau adalah KAWANKU sejati...